Senin, 04 November 2019

RAKORNAS AGRIBISNIS KADIN 2019


Pernah terpikir kah oleh kita semua bagaimana cara proses kita mendapatkan pangan, mulai dari mencari lahan, menanam sampai tumbuh dan bisa kita nikmati untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau Mama Wie sih jujur aja tidak pernah, tahunya tinggal menikmati saja.

Nah hari ini mata Mama Wie terbuka karena hadir dalam Rakornas Bidang Agribinis, Pangan & Kehutanan dan Pengolahan Makanan & Industri Peternakan. Acara yang berlokasi di Hotel Indonesia Kempinski ini bertema “Produktivitas dan Daya Saing Pertanian dan Industri Pangan”.

Ketahanan pangan masih menjadi fokus utama Pemerintah Indonesia dikarenakan masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain peningkatan produktivitas pangan di tengah jumlah populasi yang terus meningkat. Karena pangan adalah kebutuhan dasar manusia dan pemenuhannya jadi hak asasi rakyat Indonesia dan itu diatur Undang – Undang No. 18/2012 tentang pangan.

Menurut Franky O. Widjaja, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan, tahun 2045 jumlah populasi dunia diperkirakan akan menembus 9 miliar jiwa. Sementara itu, populasi penduduk Indonesia akan mencapai 350 juta jiwa. “Artinya, kita harus bisa meningkatkan produksi pangan secara signifikan untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional”.

Sedangkan untuk meningkatkan produksi pangan tersebut memerlukan bibit tanaman pangan yang unggul dan berproduksi tinggi. Tapi, kondisi perbibitan dan pembenihan komoditas pangan saat ini masih belum terkoordinasikan secara baik. Bibit dan benih yang beredar saat ini masih sangat beragam dan banyak yang belum terstandarisasi bahkan kadang-kadang hilang dipasaran. Karena bibit dan benih yang bersertifikat masih sangat terbatas sehingga berakibat pada harga yang cukup mahal, dan banyaknya impor bibit untuk memenuhi kekurangan pasokan. Padahal banyak bibit impor yang tidak sesuai dengan kebutuhan para petani itu sendiri.

Pemerintah sendiri perlu mengeluarkan paying kebijakan yang mengatur tentang perbibitan dan pembenihan komoditas pangan secara nasional agar dapat terkoordinasi mulai dari pengadaan, pendistribusian, penyimpanan hingga cara menanamnya, menurut Franky.

Para petani juga perlu diberikan edukasi bagaimana penggunaan pupuk berimbang untuk sejumlah komoditas serta meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, pemanfaatan teknologi pertanian yang tepat juga semakin penting untuk mentransformasi pertanian nasional di tengah perubahan iklim. Apalagi saat ini perubahan iklim sangat signifikan yang membuat hama tanaman meningkat.

“Strategi industrialisasi berbasis agroindustri perlu dipersiapkan dengan matang. Sama halnya dengan strategi daya saing ekspor unggulan kita. Memproses dan mengolah produk hasil pertanian menjadi barang-barang setengah jadi atau produk final yang dapat langsung dikonsumsi atau dipakai,” ungkap Franky yang juga Ketua Dewan Pengarah Rakornas.

Menurut Data Kementerian Perindustrian menyebutkan sektor makanan menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 7,1 triliun, dan kedua terbesar penanaman modal asing (PMA) senilai US$ 376 juta pada kuartal I/2019. Pada periode-periode sebelumnya, sektor makanan juga menjadi salah satu contributor utama investasi, terutama untuk PMDN.

Juan P. Odoe sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan menekankan pentingnya pertumbuhan investasi di subsektor pangan. Juga perlunya infrastruktur pembiayaan perbankan yang lebih inovatif dan kreatif, sehingga mempermudah akses permodalan kepada petani dan peternak dengan skema perkreditan yang lebih kompetitif dan dapat menciptakan nilai tambah keuntungan bagi petani dan peternak.

“Kita harapkan investasi di sector pangan terus tumbuh, tentunya ini perlu didorong dengan kebijakan fiscal dan insentif yang baik, karena akan berpengaruh banyak pada keberlanjutan pertanian dan industri makanan,” tambah Juan.

Dalam Rakornas kali ini ada sekitar 200 peserta yang terdiri dari pemerintah, asosiasi, dan himpunan bisnis, petani, korporasi, perbankan dan lembaga keuangan hingga anggota parlemen dan undangan lainnya untuk bersama-sama merumuskan rekomendasi untuk mensinergikan program dunia usaha.

Semoga kedepannya produksi pangan jauh lebih baik sehingga kita semua dapat menikmatinya. Bahkan para petani mulai saat ini sudah bisa diajak menjadi pengusaha karena memang dari tangan-tangan mereka kita dapat menikmati pangan yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar