Sabtu, 25 Mei 2019

JENIS-JENIS ZAKAT DAN PERHITUNGANNYA



Tidak terasa bahwa bulan Ramadhan telah memasuki hari ke 20, rasanya baru kemarin Mama Wie bangunin abang Al untuk sahur pertama eh sekarang sudah memasuki penghujung Ramadhan. Pada penghujung Ramadhan seperti saat ini mengingatkan Mama Wie dengan Alm Papa yang biasanya selalu mengingatkan kami sekeluarga untuk tidak lupa akan kewajiban kita sebagai umat islam yaitu membayar zakat fitrah. Waktu Mama Wie belum menikah dan masih tinggal di rumah orang tua, Alm Papa selalu menyiapkan 3,5 liter beras untuk dibagikan kepada para janda yang berada disekitaran rumah. Alm Papa selalu memerintahkan anak-anaknya untuk menyerahkan sendiri zakat fitrah tersebut kepada para janda. Kebiasaan itulah yang sampai saat ini selalu Mama Wie ingat dan akan terus Mama Wie aplikasikan kepada abang Al.

Sebelumnya, Mama Wie akan menjelaskan dulu apasih sebenernya zakat itu.

Zakat adalah salah satu kewajiban umat islam yang memiliki dampak besar bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk perkembangan bangsa (ekonomi/sosial/pendidikan, dsb).

Jenis-jenis Zakat

  • Zakat Fitrah

Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan suci Ramadan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,7 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan seperti beras, gandum dan sejenisnya.

  • Zakat Maal (harta)

Berbeda dengan Zakat Fitrah, Zakat Maal adalah zakat harta yang wajib dikeluarkan seorang muslim sesuai dengan nishab dan haulnya. Waktu pengeluaran zakat jenis ini tidak dibatasi jadi bisa dikeluarkan sepanjang tahun ketika syarat zakat terpenuhi tidak seperti zakat fitrah yang hanya dikeluarkan ketika Ramadhan.

Zakat jenis ini yang akhirnya melahirkan banyak jenis zakat diantaranya : zakat penghasilan, perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, obligasi, tabungan, emas dan perak dan lainnya. Masing-masing jenis zakat memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

Cara Menghitung Zakat Penghasilan

Zakat profesi atau zakat penghasilan adalah salah satu cara membersihkan harta yang dikenakan pada setiap pekerjaan yang memiliki penghasilan berupa uang yang telah mencapai nisabnya. Menurut Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi mereka mengqiyaskan zakat penghasilan dengan zakat pertanian yang dikeluarkan tiap kali didapatkan.
Sama seperti jenis zakat lainnya, zakat penghasilan ini juga termasuk wajib dikeluarkan karena jenis zakat ini merupakan qiyas atau analogi dari zakat harta.

Semua jenis zakat memiliki hitungan tersendiri yang berbeda, namun syarat dasar nya tetap sama yakni telah mencapai nishab dan haul. Nishab zakat penghasilan setara dengan 653kg gabah (Harga Gabah Rp 5.600,-/kg) atau sebanyak 2,5% dari setiap penghasilan yang telah kita terima. 

Berikut contoh kasus dan bagaimana cara menghitung zakat penghasilan sesuai dengan fiqih zakat.

Jika seorang karyawan Muslim memiliki penghasilan sebesar Rp 3.800.000,-/bulan maka seperti ini perhitungannya :
Qiyas (disamakan) dengan 653kg gabah (harga Gabah Rp 5.600,-/kg)
Nishab = 653 x 5.600 = Rp 3.656.800,-

Karena penghasilan tersebut telah mencapai nishab, maka perlu mengeluarkan zakat penghasilan sebesar :
2,5% x Rp 3.800.000,- = Rp 95.000,- setiap bulan.

Jujur Mama Wie merupakan orang awam dalam ilmu seperti diatas, tetapi dengan keinginan untuk memperoleh informasi sangat tinggi maka Mama Wie mendapatkan edukasi zakat di https://zakat.or.id . Pada era digital yang semakin mudah seperti sekarang ini, banyak sekali platform-platform untuk membayar zakat. Salah satunya kita dapan membayarkan kewajiban zakat kita di kanal donasi Dompet Dhuafa.

Inget teman-teman, berzakat itu sangat nikmat. Dengan berzakat kita bisa membersihkan harta, meringankan beban, memperluas pintu rezeki, dsb. Jadi, jangan lupa berzakat yaa. #JanganTakutBerzakat

0 komentar:

Posting Komentar