Kamis, 04 Oktober 2018

PENYEMPURNAAN RUJUKAN ONLINE, BPJS KESEHATAN PERPANJANG MASA UJICOBA


Sebagian peserta JKN-KIS yang sering ke rumah sakit pasti sudah tahu kalau BPJS Kesehatan ini memperbaiki system nya dengan mencoba rujukan online. Seperti yang sudah aku bahas di Rujukan OnlineFase ke-1 dan Rujukan Online Fase ke-2.

Setelah memasuki rujukan online fase ke-2 kemarin tepatnya tanggal 02 Oktober 2018 BPJS Kesehatan mengundang blogger dan media untuk menyampaikan kelanjutan rujukan online ini yang harusnya sudah memasuki fase ke-3 ini.

BPJS Kesehatan sendiri ternyata memperpanjang masa ujicoba rujukan online sampai tanggal 15 Oktober 2018 mendatang. Perpanjangan masa ujicoba ini bertujuan untuk menyempurnakan implementasi sistem rujukan berbasis digital tersebut di fasilitas kesehatan agar manfaatnya lebih dirasakan oleh peserta itu sendiri.

Sistem rujukan online sendiri diharapkan dapat memberikan kemudahan dan kepastian layanan kesehatan bagi peserta yang memerlukan rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) serta mengurangi antrian di rumah sakit. Karena dengan rujukan online kita bisa datang sesuai jam yang tertera di surat rujukan online.

Menurut Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Arief Syaefudin, “Dari evaluasi yang kami lakukan, sepanjang fase ujicoba penerapan rujukan online ini, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan, antara lain penetapan mapping fasilitas kesehatan, kesesuaian data kapasitas yang diisi oleh rumah sakit, dan proses sosialisasi yang masih perlu terus dioptimalkan, baik kepada stakeholder maupun kepada peserta JKN_KIS.”

Adanya anggapan bahwa dengan rujukan online berdampak pada berkurangnya jumlah rujukan ke rumah sakit kelas B maupun kelas A secara signifikan itu kurang tepat karena sebenarnya memang ada pergeseran distribusi pelayanan antar kelas rumah sakit, namun jumlahnya tidak terlalu besar hanya sekitar 3-4% saja.

Bahkan sistem rujukan online juga tidak menutup kesempatan bagi mereka peserta JKN-KIS untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit tujuan rujukan kelas B dan kelas A, selama itu sesuai dengan kebutuhan medisnya. Misalnya saja pada pasien dengan kondisi-kondisi khusus seperti gagal ginjal (hemodialisa), hemofilia, thalassemia, kemoterapi, radioterapi, jiwa, kusta, TB-MDR, dan HIV-ODHA dapat langsung mengunjungi rumah sakit kelas manapun berdasarkan riwayat pelayanan sebelumnya selama ini.

“Hal lain yang kami jaga dalam implementasi system rujukan online ini adalah bagaimana memastikan peserta JKN-KIS dapat tetap dilayani dengan baik sesuai dengan kebutuhan medisnya, sehingga tidak mengurangi mutu pelayanan yang diberikan,” tegas Budi.

Sistem rujukan online ini bisa diterima oleh masyarakat dan berjalan sesuai harapan maka BPJS Kesehatan terus mengintensifkan sosialisasi melalui berbagai kenal informasi dan juga berupaya meningkatkan pemahaman  baik kepada stakeholder, peserta JKN-KIS dan fasilitas kesehatan mitra. Karena apabila peserta sudah mengerti dan menjalani rujukan online ini akan sangat memudahkan dan membantu semua pihak mulai dari peserta sampai dengan fasilitas kesehatan.

Untuk data sendiri sampai dengan 28 September 2018 terdapat 202.329.745 jiwa penduduk Indonesia yang telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS termasuk aku dan keluarga besar. Bahkan untuk memberikan pelayanan terhadap peserta itu sendiri, BPJS Kesehatan telah bekerjasama dengan 22.634 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 2.441 rumah sakit (termasuk di dalamnya klinik utama), 1.551 apotek, dan 1.093 optik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar