Selasa, 02 Oktober 2018

CERDAS MENGGUNAKAN OBAT DENGAN APOTEKER DAN DAGUSIBU


Sebagai seorang ibu begitu melihat anak laki-lakinya sakit pasti akan langsung membawanya ke dokter spesialis anak agar mendapatkan perawatan yang terbaik, begitupun dengan ku. Haidar (6tahun) adalah anak kedua dari aku dan suami, begitu kehilangan anak pertama aku langsung lebih aware begitu di karuniai anak laki-laki yang sudah bisa makan sendiri ini.
Bersama anak laki-laki yang sudah berusia 6tahun

Semua yang terbaik ingin aku berikan untuknya, mulai dari aku berhenti bekerja sampai membawa Haidar selalu ke dokter anak mulai dari imunisasi, control dan sakit. Ternyata membawa anak laki-lakiku ke dokter spesialis anak adalah bukan hal yang terbaik apalagi dokter spesialis anak selalu memberikan anak laki-laki yang suka main bola ini antibiotic setiap sakit, mau itu sakit batuk, pilek atau demam.

Dulu sih aku piker dokter spesialis anak ini cocok dengan Haidar karena ketika sakit dan di bawa ke dokter hanya dalam beberapa hari Haidar sembuh tapi tidak lama kemudian dalam jangka waktu 1-2 bulan Haidar sakit kembali dan aku bawa kembali ke dokter. Dulu sih pikiran ku karena anak sebelum umur 5tahun masih rentan sakit tapi ternyata setelah aku mengikuti Gathering Blogger and Journalist “Be Smart and Fun with Pharmacists” semua itu salah besar.



Yes ternyata yang membuat anak laki-laki ku sering sakit ini selalu diberikan antibiotik, padahal kalau hanya batuk, pilek dan demam sebaiknya tidak perlu diberikan antibiotic karena antibiotik sebaiknya diberikan untuk pasien yang terkena bakteri sedangkan batuk, pilek dan demam sendiri disebabkan oleh virus.

Betapa terkejut dan merasa bersalahnya aku memberikan yang salah kepada anak laki-laki yang suka makan cokelat ini. Salah nya aku yang kurang bertanya, kurang kritis dan selalu menganggap dokter pintar serta mempercayai semuanya kepada dokter tanpa bertanya. Padahal sebenarnya obat itu diberikan oleh apoteker bukan dokter.

Memang tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan informasi, senangnya aku bisa hadir di acara yang penuh dengan ilmu ini. Sekarang aku lebih tahu kalau di berikan obat sebaiknya tanya terlebih dahulu kepada apoteker. Tugas seorang apoteker tuh bisa di bilang dari hulu ke hilir, bahkan seorang apoteker memiliki kewenangan untuk mengganti obat, apabila obat yang kita inginkan tidak ada dapat di ganti dengan kandungan yang sama hanya saja berbeda merek.

Agar apoteker lebih di kenal pada tahun 2014 lalu para apoteker sudah menggenakan jas putih untuk identitasnya. Kadang juga walaupun sudah diberikan obat sakit yang kita derita masih belum sembuh, itu bisa jadi kita salah dalam penggunaan obat dan penyimpanan obat itu sendiri.

Seperti aku misalnya kadang suka nakal, minum obat maag sebaiknya sebelum makan tapi aku minum sesudah makan nah itu obat tidak berfungsi dengan baik. Yang paling penting kita harus tanya lima O ketika mendapatkan obat, yaitu :
  1. Obat ini apa nama dan kandungan nya?
  2. Obat ini apa khasiat nya?
  3. Obat ini berapa dosis nya?
  4. Obat ini bagaimana cara menggunakan nya?
  5. Obat ini apa efek samping nya?

Kita juga harus selalu mengingat logo yang ada di dalam obat, mulai dari obat bebas terbatas yang berlogo bulat biru, obat bebas yang berlogo bulat hijau, obat keras bulat merah da nada hurf k di dalam bulat merah tersebut. Dalam memilih obat ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, diantaranya :
  • Kandungan zat berkhasiat, bukan merek dagang obat
  • Riwayat alergi atau sensitive terhadap obat
  • Kondisi hamil atau berencana hamil. Beberapa obat dapat mempengaruhi janin dan menyebabkan cacat pada bayi
  • Kondisi menyusui. Beberapa obat dapat masuk dalam ASI dan menimbulkan efek buruk pada bayi
  • Harga eceran tertinggi (NET) obat
  • Bentuk sediaan. Pilihlah yang paling sesuai untuk digunakan dengan baik dan benar
  • Kondisi sedang menggunakan obat. Karena dapat berinteraksi dengan obat lain, tanyakan pada apoteker

Selain memperhatikan cara memilih obat yang benar kita juga harus tahu bagaimana cara menggunakan, menyimpan dan membuang obat yang benar. Cara menggunakan obat yang benar, yaitu :
  • Baca aturan pakai sebelum menggunakan obat
  • Gunakan obat sesuai aturan pakai, Dosis (gunakan sendok takar) , Rentang waktu (3X1, minum selama rentan waktu 8 jam) dan Lama penggunaan obat (3-5hari)
  • Obat bebas dan obat bebas terbatas tidak digunakan secara terus menerus. Jika sakit berlanjut segera hubungi dokter
  • Hentikan penggunaan obat apabila timbul efek yang tidak diinginkan. Segera ke fasilitas pelayanan kesehatan
  • Tidak menggunakan obat orang lain meski gejala sakitnya sama, aku sering banget nih minta obat pak suami kalau lagi pusing ternyata itu tidak boleh karena beda dosis antara kita dan orang lain
  • Tanyakan ke apoteker untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap

Menggunakan obat dengan yang benar insya allah kita akan segera  sembuh. Sedangkan cara penyimpanan obat yang benar ada 2 cara, yaitu secara umum dan khusus, kalau secara umum sendiri :
  • Tidak melepas etiket pada wadah obat, karena tercantum nama, cara penggunaan, dan informasi penting lainnya
  • Perhatikan dan ikuti aturan penyimpanan pada kemasan
  • Letakkan obat jauh dari jangkauan anak
  • Simpan obat dalam kemasan asli dan wadah tertutup rapat
  • Tidak menyimpan obat di dalam mobil dalam jangka lama karena suhu tidak stabil dalam mobil dapat merusak obat
  • Perhatikan tanda-tanda kerusakan obat dalam penyimpanan. Misal : perubahan warna, bau dan terjadi penggumpalan

Sedangkan secara khusus penyimpanan obat sendiri, yaitu :
  • Tablet dan kapsul tidak disimpan di tempat panas atau lembab
  • Obat sirup tidak disimpan dalam lemari pendingin
  • Obat untuk vagina (ovula) dan anus (suppositoria) disimpan di lemari pendingin (bukan pada bagian freezer) agar tidak meleleh pada suhu ruangan
  • Insulin yang belum digunakan disimpan di lemari pendingin. Setelah digunakan disimpan di suhu ruangan
  • Obat bentuk aerosol/spray tidak disimpan di tempat bersuhu tinggi karena dapat meledak

Wah benar-benar pengetahuan yang baru aku tahu sekarang, biasanya aku asal saja menyimpan obat semua aku masukkan ke dalam lemari pendingin, ternyata tidak semua obat bisa di simpan di lemari pendingin. Sedangkan cara membuang obat yang benar adalah :
  • Pisahkan isi obat dari kemasan
  • Lepaskan etiket dan tutup dari wadah/botol/tube
  • Buang kemasan obat (dus/blister/strip/bungkus lain) setelah di robek atau digunting
  • Buang isi obat sirup ke saluran pembuangan air (jamban) setelah diencerkan. Hancurkan botolnya dan buang ke tempat sampah
  • Buang obat tablet atau kapsul di tempat sampah setelah di hancurkan
  • Gunting tube salep/krim terlebih dahulu dan buang secara terpisah dari tutupnya di tempat sampah
  • Buang jarum insulin setelah dirusak dan dalam keadaan tutup terpasang kembali

Agar lebih mudahnya sih kita hanya perlu mengingat DAGUSIBU, DApatkan, GUnakan, SImpan dan BUang. Yuk ah mulai sekarang kita jadi masyarakat yang CerMat, Cerdas Menggunakan Obat untuk kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. 

Mulai sekarang kalau ke apotik tanya, apakah ada apotekernya atau tidak agar kita bisa bertanya obat yang akan kita beli ke apoteker jangan tanya lagi obat yang bagus apa? Ada diskon apa tidak? Hehehe. Biasanya aku juga selalu bertanya begitu tapi setelah tahu aku akan berubah demi kebaikan.

Para blogger dan media di acara kemarin

0 komentar:

Posting Komentar