Senin, 01 Oktober 2018

CEGAH PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN PERILAKU CERDIK


6 bulan sudah papa pergi menghadap penciptaNya, tetapi kenangan indah bersama papa makin lama makin terus teringat jelas yang membuat ku kangen akan sosok laki-laki yang selalu mengajarkan kemandirian ini kepada anak-anaknya. Papa adalah laki-laki yang sangat menyayangi keluarganya dengan caranya sendiri.
Al-fatihah Abunandar bin H. Subagio

Tepat di tanggal 12 Maret 2018 2 minggu setelah pulang Umroh papa di panggil yang Maha Kuasa. Begitu cepat kepergian papa sehingga kami tidak bisa melihat di saat –saat terakhir. Pukul 22.00 aku di kabarkan kalau papa mengalami sesak nafas, begitu aku sedang bersiap-siap menuju ke rumah papa tiba-tiba pukul 22.30 aku di kabarkan kembali kalau papa sudah tidak ada.

Betapa terkejut dan seperti mimpi aku mendengar kabar itu, menurutku ini hanya sebuah mimpi yang ketika besok pagi aku bangun semua nya akan baik-baik saja, tapi ternyata ini kenyataan yang harus aku terima walaupun sangat pahit. Sebagai anak aku belum bisa membanggakan dan membahagiakan papa bahkan bisa dibilang aku masih banyak membuat papa kecewa tapi aku tahu kalau papa sangat sayang padaku dengan caranya yang unik.

Dan sekarang lah saat nya aku berbakti kepada papa dengan selalu berbuat baik dan mengirimkan doa di setiap sholatku, karena doa anak sholeh/sholehah tidak akan putus. Kepergian papa yang sangat cepat dan mendadak membuatku lebih aware menjaga mama dan adik-adikku.

Karena papaku meninggal mendadak itu dikarenakan penyakit Jantung yang memang dokter sudah menyarankan papa untuk di by pass jantungnya tapi papa menolak. Laki-laki yang suka sekali minum kopi ini terkena penyakit Jantung karena menderita Diabetes. Ternyata diabetes bisa menyerang Jantung dan Paru-Paru, aku berkata demikian karena mama juga terkena diabetes tapi yang di serang paru-parunya sehingga mama harus minum obat paru selama 6 bulan.
Lebaran pertama tanpa papa
Kesayangan-kesayangan aku

Pengalaman adalah guru yang paling berharga, istilah itulah yang membuatku lebih aware dengan kesehatan. Aku tidak mau kehilangan semua orang yang aku sayang karena penyakit Jantung yang menyerang secara tiba-tiba. Walaupun aku juga paham kalau kita semua di dunia ini hanya menunggu waktu saja kapan kembali ke pencipta kita.

Tapi aku percaya kalau kita menjaga kesehatan kita akan sehat dan terhindar dari penyakit, walaupun kita harus kembali nantinya dengan keadaan sehat. Ternyata bukan hanya papa saja yang terkena penyakit mematikan ini, menurut data WHO pada tahun 2015 menunjukkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM) (39,5 juta dari 56,4 kematian). Dari seluruh kematian akibat Penyakit Tidak Menular tersebut 45% nya disebabkan oleh Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, yaitu 17,7 juta dari 39,5 juta kematian.

Jumat kemarin aku hadir di Kemenkes untuk mengikuti Press Conference Peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 September 2018 dengan tema tahun ini “My Heart, Your Heart”. Tema ini dipilih untuk mengajak masyarakat melakukan perubahan kecil dalam hidup, dengan membuat sebuah janji sederhana untuk kesehatan Jantung kita dan kesehatan Jantung orang-orang yang kita sayangi, seperti berkomitmen dengan mengkonsumsi makanan yang lebih sehat, beraktivitas fisik lebih baik, berhenti/hindari asap rokok dan lain-lain.

Bahkan Kementerian Kesehatan juga mengajak kita semua untuk melakukan perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dengan menghidupkan perilaku CERDIK agar mendapatkan jantung yang sehat “Hidup CERDIK, JANTUNG Sehat”, CERDIK sendiri yaitu :
  • Cek kesehatan secara berkala
  • Enyahkan asap rokok
  • Rajin aktivitas fisik
  • Diet sehat dan seimbang
  • Istirahat yang cukup
  • Kelola stress

Memang berat mengubah gaya hidup, dari CERDIK ini ada belum aku lakukan, aku cek kesehatan aja kalau sudah sakit, malas sekali ektivitas fisik (tapi sekarang sudah lumayan aktivitas fisiknya anter anak sekolah jalan kaki), diet sehat dan seimbang (aku masih suka makan gorengan yang lemaknya banyak jarang makan buah dan sayur). Tapi aku percaya tidak ada yang sulit merubah gaya hidup untuk lebih sehat kalau ada kemauan.

Aku sih berharap semoga keluarga tidak ada lagi yang terkena penyakit jantung koroner seperti papa. Penyakit Jantung Koroner (PJK) sendiri adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis ditandai dengan nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada / dada terasa tertekan berat ketika sedang mendaki/kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.

Penyakit Jantung Koroner terdiri dari penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala, angina pektoris stabil, dan Sindrom Koroner Akut (SKA). Penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala biasanya diketahui dari skrining, sedangkan angina pektoris stabil didapatkan gejala nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.

Prevalensi PJK nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 1,5%, tertinggi di Prov Nusa Tenggara Timur (4,4%) dan terendah di Provinsi Riau (0,3%). Menurut Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan PJK merupakan penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke, yaitu sebesar 12,9% dari seluruh penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Bahkan menurut Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) menunjukkan adanya peningkatan beban biaya kesehatan akibat PJK setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari tahun 2014 yang menghabiskan 4,4 triliun rupiah yang kemudian meningkat menjadi 7,4 triliun rupiah pada tahun 2016. Dari data di atas adanya peningkatan sebanyak 68,2%. Dan aku pun merasakan ini, selama papa berobat penyakit Jantung dan diabetes menggunakan BPJS papa tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali.

Tapi lebih baik mencegah daripada mengobati, itu prinsipku dan PJK dapat dicegah dengan pengendalian perilaku yang beresiko seperti penggunaan tembakau, diet yang tidak sehat dan obesitas, kurang aktivitas fisik serta penggunaan alkohol. Sayang nya laki-laki yang memiiki 4 orang anak ini masih saja merokok walaupun sudah terkena PJK.

Menurut data Riskesdas, faktor resiko perilaku utama yang menjadi tantangan dalam upaya pengendalian Penyakit Tidak Menular di Indonesia, adalah :
  • Sekitar 93,5% penduduk usia >10 tahun kurang konsumsi buah dan sayur
  • Sekitar 36,3% penduduk usia >15 tahun merokok, perempuan berusia >10 tahun yang merokok sekitar 1,9%
  • Sekitar 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik
  • Sekitar 4,6% penduduk >10 tahun minum minuman beralkohol

Faktor perilaku tersebut merupakan penyebab terjadinya PTM seperti hipertensi, diabetes mellitus, dyslipidemia yang merupakan pintu terjadinya PJK. Apabila kita melihat pasien dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri disertai dengan keringat dingin, ada mual dan muntah segera kita bawa ke rumah sakit atau klinik terdekat karena bisa jadi itu adalah gejala PJK.

Pemerintah sendiri melakukan beberapa pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular termasuk PJK yang fokus padaupaya promotif dan preventif dengan tidak meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif, yang diantaranya dengan  :
  • Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, yang tahun ini difokuskan pada kegiatan deteksi dini, peningkatan aktivitas fisik serta konsumsi buah dan sayur
  • Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga sejalan dengan agenda ke-5 Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga, diantaranya penderita hipertensi berobat teratur dan tidak ada anggota keluarga yang merokok
  • Meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku CERDIK yang sudah aku jelaskan di atas
  • Melakukan pola hidup “PATUH” bagi penyandang PTM khususnya PJK

PATUH sendiri yaitu :
  • Periksa kesehatan secara rutin
  • Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat
  • Tetap aktivitas fisik dengan aman
  • Upayakan diet sehat dan gizi seimbang
  • Hindari asap rokok, minuman beralkohol dan zat karsinogenik lainnya

Harus di catat nih, aku saja cek kesehatan kalau sakit aja, mulai sekarang mah harus dan wajib sebulan sekali untuk mengecek kesehatan. Aku pun mulai membiasakan banyak makan buah dan sayur walaupun awalnya tidak suka. Karena pengalaman kehilangan papa akibat PJK ini, aku lebih aware dengan kesehatan jantungku dan jantung orang-orang yang aku sayangi.
Biasakan makan buah

Pemerintah saja sangat peduli dengan kesehatan masyarakat jadi tidak ada alasan untuk kita tidak menyayangi jantung kita sendiri, semoga dengan perilaku CERDIK dan PATUH penyakit PJK ini tahun-tahun kedepannya akan berkurang dan semakin banyak masyarakat yang sehat.

Karena sehat itu mahal jadi marilah mulai saat ini kita jaga kesehatan diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar. Semoga kita semua selalu sehat dan terhindar dari segala macam penyakit, Amien Allahumma Amien.

22 komentar:

  1. Semoga papa mbak diterima semua amal2nya ya dan keluarga diberi ketabahan.
    Kalau sakit jantung ini emamg bikin ngeri ya. Kadang kita nggak tahu kapan terjadinya.

    BalasHapus
  2. Iya nih mba, bener, aku juga merasa belum niiih melakukan CERDIK. Semoga mnjadi penyemangat ni tulisan ini..

    BalasHapus
  3. PJK termasuk silent killer juga kalau gak salah. Memang gaya hidup kita harua lebih diperhatikan lagi ya mba..

    BalasHapus
  4. tulisannya menginspirasi plus ngingetin aku lagi buat jaga kesehatan dengan pola makan dan gaya hidup yang sehat.

    BalasHapus
  5. Setuju, sehat itu mahal. Karena itu, menjaga tubuh tetap fit bukan perkara mudah atau susah. Tapi perkaya mau sehat apa ga...

    BalasHapus
  6. Kakek ku juga meninggal karena jantung mba dan mendadak. Padahal sebelumnya habis medicheck dan dinyatakan sehat jantungnya. Qadarullah....tapi memang kita harus melakukan langkah antisipatif ya. Terima kasih reminder dan informasinya ya Mba.

    BalasHapus
  7. Pola hidup sehat gini harus dikenalin sejak dini klo menurut aku, supaya menjadi suatu kebiasaan. Naahh PR kita deh membiasakan anak2 hidup sehat. Harus mulai dari diri kita sendiri dulu. Ini yang agak susaahh.

    BalasHapus
  8. Pengalaman merupakan guru terbaik.

    BalasHapus
  9. Jadi kangen abahku. Reminder banget ni mba, penting harus lebih aware soal serangan jantung, terutama perubahan gaya hidup ya, ini sih yang juga peer banget buat aku dan keluarga, banyak yang harus di ubah.

    BalasHapus
  10. Stres jadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai ya Mba. Memang apa-apa itu dari pikiran sih ya. Semoga kita sehat-sehat terus. Amin.

    BalasHapus
  11. Lagi-lagi selalu untuk menjaga pola hidup sehat yah agar terhindar dari penyakit, apalagi jantung yang tanpa disadari dan datangnya tiba-tiba

    BalasHapus
  12. Kemenkes sangat giet nih sosialisasi CERDIK...

    BalasHapus
  13. kalau mau sehat, perilaku kita harus CERDIK dan menerapkan pola hidup PATUH
    thanks for sharing mbak dewi

    BalasHapus
  14. Ya, harus benar-benar membiasakan CERDIK. Jantung koroner berbahaya juga karena datangnya secara diam-diam tidak terduga. Terima kasih sudah berbagi cerita.

    BalasHapus
  15. CERDIK yang digaungkan Kemenkes ini kena banget lho. Pun buat aku belum maksimal menjalankannya. Tapi minimal banyak yang ke arah lebih baik ya buat gaya hidup sehatnya.

    BalasHapus
  16. Kalau mengikuti CERDIK, aku masih banyak kurangnya nih padahal sehat itu mahal. Kurang olah raga jelas, padahal dulunya aku hobi lari tuh. Kalau sekarang lebih ke jaga makanan tapi kalau pas iseng suka jajan gorengan

    BalasHapus
  17. Aku baru tau lho, cerdik itu ada kepanjangannya. Nice sharing mba, mudah-mudahan kita semua sehat selalu yaa :)

    BalasHapus
  18. Pengalaman memang berharga. Kita harus mampu hidup sehat

    BalasHapus
  19. Kalau bicara masalah jantung jadi inget alm. Ibu, jantung beliau bocor

    BalasHapus
  20. CERDIK ini kelihatan simpel tapi susah banget lho dilakuinnya :(

    BalasHapus
  21. wuaaah cerdik ini harus di applikasikan mba dew.. aku juga ngeri nih kalo masalah jantung

    BalasHapus
  22. Kalau ngomongin jantung memang ngeri ya, dan dengan Cerdik harus bisa diaplikasikan.

    BalasHapus