Jumat, 24 Agustus 2018

BEDAH BUKU MELAWAN KONSPIRASI GLOBAL DI TELUK JAKARTA


Sebagai seorang blogger membaca buku sudah menjadi kewajiban serta rutinitas aku setiap hari untuk menambah pengetahuan dan wawasanku. Membaca buku sih sudah sering aku dan teman-teman lakukan bukan? Tapi pernahkan teman-teman membedah sebuah buku?

Kalau aku sih terus terang saja belum pernah membedah sebuah buku bahkan sampai tulisan ini di turunkan aku belum pernah membedah buku. Sebenarnya sih aku ingin sekali mengikuti acara membedah buku tapi mungkin belum ada waktu serta kesempatan aku untuk membedah buku itu sendiri.

Nah kemarin tuh aku mendapatkan kesempatan dari seorang teman untuk mengikuti kegiatan bedah buku walaupun hanya dari media sosial. Buku yang akan aku bedah sendiri yaitu Buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta.
Bedah buku melawan konspirasi global di teluk jakarta

Acara bedah buku “Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta sendiri dilakukan pada Rabu, 15 Agustus 2018 di Sanggar Maos Tradisi (SMT), Sleman, Yogyakarta. Buku yang ditulis oleh Ahmad Khoirul Fata dan MD Aminudin ini diluncurkan pada Kamis, 31 Mei 2018 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.



Pembicara di acara bedah buku melawan konspirasi global di teluk jakarta

Diskusi bedah buku ini dihadiri oleh beberapa narasumber yaitu: 
  • Dr Aris Arief Mundayat (Dosen Lembahanas),
  • Dr. Arie Sujito (Sosiolog UGM),
  • Nova Sofyan Hakim (Ketua Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia) dan
  • Dimoderatori oleh Ahmad Fadli, pegiat SMT.

Bedah buku ini tidak hanya diadakan di Yogyakarta saja, tetapi selanjutnya akan diadakan diskusi di kampus-kampus seluruh Indonesia. Tujuan diadakannya bedah buku ini adalah agar para peserta bedah buku ini memahami persoalan Teluk Jakarta yang sebenarnya, dan juga agar masyarakat tahu bahwa pelabuhan itu seharusnya tidak dikelola oleh pihak asing.

Keseruan acara bedah buku melawan konspirasi global di teluk jakarta

Sampai saat ini nyatanya JICT melakukan kontrak kerja sama untuk kedua kalinya dengan perusahaan asal Hongkong yaitu Hutchison Port, yang dimana sudah dianggap melewati batas dan aturan yang berlaku di Negara Indonesia. Perpanjangan kontrak ini dilakukan secara sepihak oleh Direktur Utama Pelindo II , RJ Lino pada 2014.  Perpanjangan kerja sama ini mengakibatkan merosotnya ekonomi Indonesia dan menurunnya kesejahteraan rakyat.

Serikat Pekerja (SP) JICT adalah mereka yang sadar bahwa mereka tidak boleh tinggal diam, hanya pasrah kepada keadaan.
Dalam acara bedah buku ini ada 7 pokok bahasan yang didiskusikan, yaitu:
  1.       Pelabuhan merupakan asset strategis bangsa
  2.      Ada kecenderungan asset-aset strategis dijadikan jaminan utang, seperti JICT dan TPK Koja
  3.      Dengan dijadikannya jaminan, ada kemungkinan jatuh ke tangan asing
  4.      Hal-hal seperti di JICT (Pelindo II) banyak diduplikasi oleh BUMN lainnya
  5.      Jika dibiarkan terus, maka akan mengganggu kedaluatan suatu bangsa
  6.      Jika terlambat, maka kejadian di Pelabuhan Hambatonta, Sri Lanka bisa terjadi di Indonesia
  7.      Saatnya pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.


Sebagai warga Indonesia, buku ini dapat menjadi tambahan referensi untuk kita semua agar lebih peduli dengan kedaulatan maritim Indonesia. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan kedaulatan maritim Indonesia?

2 komentar:

  1. Sangat enarik sekali acara seperti itu, kita bisa menjadi mengerti apa isi buku buku yang kita baca, tidak hanya membaca saja tapi juga mengupas isinya.

    BalasHapus
  2. Bedah buku ini memang perlu apalagi indonesia negara kepulaun yang harus di jaga, jangan sampai di caplok negara tetangga

    BalasHapus